You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Kalurahan Tawangsari

Kap. Pengasih, Kab. Kulon Progo, Prov. DI Yogyakarta
Info

Ki Guntoro dari Tawangsari Sambut Menoreh Art Festival


Setelah wafatnya Dhalang Wayang Kulit terkenal Ki Hadi Sugito, di Kulon Progo muncul dhalang-dhalang muda berbakat. Salah Satunya adalah Ki Guntoro Sugati kelahiran Seworan yang sekarang ber-KTP warga Tawangsari. Dalam Gelaran Menoreh Art Festival yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo Ki Guntoro dipercaya mengisi Pentas Wayang Kulit bersama 2 dhalang lainnya yang juga berasal dari Kulon Progo. 

Konsep unik dan baru ditampilkan oleh ketiga dhalang. Karena biasanya mereka duduk sejajar bertiga. Namun pada kesempatan kali ini kelir yang ditampilkan bertingkat tiga ke atas. Tentu saja ini menarik perhatian warga kulon progo untuk menyaksikan pagelaran tersebut. 

Mengusung lakon cerita Bima Bumbu atau Bima Bothok. Merupakan penokohan Sang Bima atau Bratasena dalam kisah Mahabarata. Patih Sengkuni sebelumnya merencanakan kematian para Pandawa di Bale Gala-gala yaitu dengan membuat tempat tinggal para pandawa dengan bahan yang mudah terbakar. Pada saat mereka terlelap patih sengkuni mengutus prajurit untuk membakar balai tempat tinggal para pandawa. Namun karen Sang Bima tanggap dengan keadaan langsung membawa 4 saudara serta Ibunya melewati bawah tanah untuk menghindari kobaran api. Setelah lolos dari bencana mereka kelaparan di tengah hutan,. Kemudian Sang Ibu Kunthi memerintahkan Bima untuk mencari makan untuk adik-adiknya. Tak lama di suatu daerah ada Seorang Resi yang bernama Wijrapa sedang sedih karena harus menyerahkan putranya sebagai tumbal untuk dimakan Prabu Baka sang Raksasa. Melihat kejadian itu Bima merasa kasihan dan memerintahkan anaknya untuk melumuri Bima dengan Bumbu Bothok. Setelah tiba di Kraton Ekacakra, Prabu Bakah senang melihat Bima yang pastinya memiliki daging yang banyak karena tubuhnya yang besar. Ternyata saat Bima digigit tidak satupun bagian tubuhnya tergores, sehingga Prabu Baka murka dan terjadi peperangan. Singkat cerita dengan Kuku Pancanaka Bima berhasil membunuh Baka yang kemudian memperoleh imbalan nasi tumpeng untuk diberikan kepada saudara dan ibunya. 

Dikemas dengan apik oleh ketiga dhalang dengan iringan dari anak-anak Puspita Laras Kecamatan Samigaluh pagelaran berhasil menarik penonton untuk menikmatinya. Ketiga dhalang juga berharap Kulon Progo menetaskan kembali dhalang-dhalang berkualitas sehingga bisa berkibar seperti Ki Hadi Sugito waktu itu. Serta dalam menyambut Hari Wayang Dunia tanggal 07 November 2019 nanti mereka berharap di Kulon Progo juga ada pertunjungan wayang kulit di masing-masing kesempatan untuk memperingati Wayang sebagai Warisan Budaya Internasional yang diberikan UNESCO saat itu. 

Bagikan artikel ini: