Bertempat di Taman Budaya Kabupaten Kulon Progo, pada kamis malam kemarin menjadi salah satu peserta Festival Rintisan Desa Budaya yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo.
Mengambil tema Adeging Desa Tawangsari atau berdirinya Desa Tawangsari sekitar 40 orang warga Desa Tawangsari menjadi peserta dalam gelaran tahunan tersebut. Di dalam festival tersebut Desa Tawangsari menampilkan beberapa kesenian dan kebudayaan, diantaranya Kethoprak, Wiwit Padi, Kuda Lumping, Gejok Lengsung, dan Wayang Kulit. Dikemas dalam satu adegan kethoprak.
Berikut Sinopsis dari Kisah Adeging Desa Tawangsari :
ADEGING DESA TAWANGSARI
Berawal dari cerita rakyat antara Kalurahan Jombokan dengan Kalurahan Janturan, kala itu Ki Poyo sedang kalut karena padi yang akan dipanen sawahnya tergenang air. Ternyata aliran air tersebut berasal dari Kalurahan Jombokan yang membuang air ke Janturan yang juga akan melaksanakan Panen Padi.
Anak Poyo dan anak Mentadrana dari Jombokan yang diminta melihat aliran air ternyata malah menjalin asmara dan bermesraan di Bendungan Kali Kelip sehingga terjadi perselisihan di antara mereka.
Sampai akhirnya datang Punggawa Praja yang membawa kekancingan dimana Kalurahan Janturan dan Jombokan pada saatnya nanti akan bergabung menjadi satu kalurahan, yaitu Kalurahan Tawangsari.