Pulau Sumatra kembali dihadapkan pada ujian berat. Sejak akhir November 2025, curah hujan ekstrem memicu gelombang banjir dan tanah longsor yang dahsyat, melanda secara simultan dua provinsi bertetangga, Aceh dan Sumatera Utara (Sumut). Bencana hidrometeorologi ini telah memakan ratusan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang melumpuhkan sebagian besar aktivitas ekonomi dan sosial di kedua wilayah.
Skala bencana kali ini terbilang masif. Di Aceh, 18 kabupaten/kota terdampak, dengan Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya menjadi titik terparah. Sementara di Sumatera Utara, kabupaten seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Humbang Hasundutan mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan longsor.
Data dari Pos Komando Tanggap Darurat Bencana (per 1 Desember 2025) menunjukkan betapa seriusnya tragedi ini. Total korban jiwa di kedua provinsi mencapai angka yang mengejutkan, dan puluhan hingga ratusan orang dilaporkan hilang.
"Update Korban Bencana di Aceh-Sumatera: 442 Orang Meninggal, 402 Lainnya Masih Hilang." – (Laporan VIVA per 1 Desember 2025)
Angka ini terus bergerak, mencerminkan betapa sulitnya proses evakuasi dan pencarian yang terhambat oleh akses yang terputus.
Di Aceh, misalnya, juru bicara Pos Komando Tanggap Darurat, Murthalamuddin, menyatakan dampak yang serius: “Angka ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi Aceh memberikan dampak yang sangat serius terhadap masyarakat. Pemerintah terus memperkuat upaya evakuasi, pelayanan kesehatan, dan penyediaan bantuan logistik.” Kerusakan infrastruktur di Aceh pun tercatat luar biasa, termasuk terputusnya 261 titik jalan dan 77 unit jembatan, terutama di jalur strategis Banda Aceh–Lhokseumawe dan akses Aceh–Sumatera Utara di Aceh Tamiang.
Dampak bencana tidak hanya terasa pada korban jiwa dan infrastruktur, tetapi juga mengancam ketahanan pangan nasional. Ribuan hektare lahan pertanian, terutama sawah dan kebun, terendam dan hancur di kedua provinsi.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengakui kekhawatiran ini:
"Banyak sawah-sawah para petani yang tergenang oleh air cukup tinggi. Otomatis ini berpengaruh terhadap nanti produksi di tahun 2026." – (Pernyataan Dirut Bulog terkait dampak banjir pada produksi beras nasional)
Fakta ini mempertegas bahwa kerusakan akibat banjir di Sumatra memiliki efek domino yang meluas hingga ke tingkat nasional.
Selain itu, muncul pula seruan untuk mengevaluasi kebijakan lingkungan. Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa bencana ini harus menjadi momentum evaluasi:
"...pendulumnya kalau ekonomi dan ekologi tampaknya pendulumnya terlalu ke ekonomi dan harus ditarik ketengah lagi.” – (Pernyataan Menhut Raja Antoni menyoroti perlunya keseimbangan antara ekonomi dan ekologi)
Kutipan ini menggarisbawahi dugaan publik bahwa deforestasi dan pengelolaan lingkungan yang tidak bijaksana turut memperparah dampak hujan ekstrem di kawasan tersebut.
Di tengah duka ini, solidaritas nasional menjadi kunci. Bantuan kemanusiaan terus mengalir, meskipun logistik sulit menembus daerah terisolir seperti Dataran Tinggi Gayo dan beberapa wilayah di pedalaman Sumut.
Saat ini, fokus utama adalah pembukaan akses darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi. Penetapan status bencana nasional juga menjadi harapan banyak pihak agar intervensi penuh dari pemerintah pusat segera dilakukan.
Kedua provinsi masih berada dalam status Tanggap Darurat Bencana. Fokus utama adalah evakuasi, penyediaan logistik, dan pembukaan akses jalan yang terputus.
| Aspek | Aceh | Sumatera Utara (Sumut) |
| Korban Jiwa | Tercatat 173 orang meninggal dan 204 orang hilang. | Lebih dari 269 orang meninggal dan 98 orang hilang, terutama akibat longsor di kawasan Danau Toba dan Tapanuli. |
| Korban Terdampak | Sekitar 443.001 jiwa terdampak. | Sekitar 120.000 jiwa terdampak. |
| Daerah Terparah | Aceh Utara, Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan dataran tinggi Gayo. | Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Humbang Hasundutan (longsor). |
| Kendala Utama | Kerusakan parah pada 261 titik jalan dan 77 jembatan yang memutus jalur logistik vital. | Akses ke lokasi longsor di daerah pegunungan yang sulit, memerlukan alat berat. |
| Penanganan | Distribusi bantuan logistik menggunakan helikopter untuk daerah terisolir. Pendirian ratusan posko pengungsian. | Fokus pada evakuasi korban longsor dan penanganan banjir bandang di kawasan pesisir (Tapteng). |
Poin Kunci: Operasi pencarian korban hilang masih menjadi prioritas utama di kedua wilayah, terutama di lokasi yang tertimbun longsor di Sumut dan wilayah pesisir yang terbawa arus di Aceh.
Penting untuk menyalurkan bantuan melalui lembaga resmi yang memiliki jaringan di kedua provinsi guna memastikan bantuan mencapai korban terdampak secara efektif.
| Lembaga Penyalur | Nomor Rekening & Atas Nama | Keterangan Tambahan |
| Human Initiative (PKPU) | BSI: 7000.321.693 a.n. PKPU Human Initiative | Melayani respons cepat di Aceh, Sumut, dan wilayah Sumatra lainnya yang terdampak. |
| Dompet Dhuafa Waspada (Sumut) | BNI Syariah: 7979.100.900 a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika | Fokus pada quick response dan pemulihan, khususnya di wilayah Sumatera Utara. |
| ACT (Aksi Cepat Tanggap) | BNI Syariah: 6600.000.183 a.n. Aksi Cepat Tanggap | Mengelola posko di beberapa titik pengungsian di kedua provinsi. |
| DT Peduli | Cek situs resmi untuk nomor donasi bencana. | Menyalurkan bantuan logistik, makanan, dan layanan kesehatan di posko. |
Pemerintah Provinsi Aceh (BPBD Aceh):
Mengoperasikan Posko Terpadu Kemanusiaan di Banda Aceh.
Informasi donasi uang tunai/transfer biasanya dikoordinasikan melalui Bank Aceh Syariah dengan kode unik, cek melalui situs resmi BPBD Aceh atau dinas sosial terkait.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (BPBD Sumut):
Menerima donasi barang dan logistik di kantor BPBD Provinsi Sumut.
Donasi uang tunai disalurkan melalui rekening yang dikoordinasikan oleh Dinas Sosial Provinsi Sumut atau Bank Sumut.
Saran: Sebelum berdonasi, pastikan Anda memeriksa kembali nama dan nomor rekening di situs resmi lembaga terkait atau media massa nasional untuk menghindari penipuan.